h e h e h e

Minggu, 29 Mei 2011

Transudat``Eksudat

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Transudat adalah penimbuanan cairan dalam rongga serosa sebagai akibat karena gangguan keseimbangan cairan dan bukan merupkan proses radang, sedangkan eksudat adalah cairan patologis yang berasal dari proses radang.
            Transudat dan eksudat dapat terjadi pada :
-          Tekanan hidrostatis meningkat
-          Tekanan koloid osmotic
-          Kenaikan filtrate kapiler dan protein spesifik
   Macam macam pemeriksaan transudat dan eksudat :
1.      Makroskopis
2.      Mikroskopis
3.      Pemeriksaan bakteriologi
4.      Kimia

B.     RUMUSAN MASALAH
-          Mengetahui pengertian transudat dan eksudat
-          Mengetahui cara pemeriksaan transudat dan eksudat
-          Dapat membedakan transudat dan eksudat
-          Mengetahui cara diagnosa laboratorium
C.    TUJUAN PENULISAN
-          Mahasiswa dapat memahami pengertian dari transudat dan eksudat
-          Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan laboratorium

BAB II
PEMBAHASAN

Cairan pleura adalah cairan dalam rongga pleura dalam paru – paru. Fungsiya sebagai pelumas. Normalnya cairan pleura sangat sedikit jumlahnya hampir tidak bisa diukur volumenya. Karena kondisi patologis, caiaran jumlahnya meningkat sehingga dapat dianalisa dan akan berupa transudat atau eksudat.
Transudat adalah penimbunan cairan dalam rongga serosa sebagai akibat karena gangguan keseimbangan cairan dan bukan merupkan proses radang(tekanan osmosis koloid, stasis dalam kapiler atau tekanan hidrostatik, kerusakan endotel, dsb), sedangkan eksudat adalah cairan patologis yang berasal dari proses radang.
Bila radang terjadi pada pleura, maka cairan radang juga dapat mengisi jaringan sehingga terjadi gelembung, hal ini misalnya terjadi pada kebakaran. Cairan yang terjadi akibat radang mengandung banyak protein sehingga berat jenisnya lebih tinggi daripada plasma normal. Begitu pula cairan radang ini dapat membeku karena mengandung fibrinogen. Cairan yang terjadi akibat radang ini disebut eksudat. Jadi sifat-sifat eksudat ialah mengandung lebih banyak protein daripada cairan jaringan normal, berat jenisnya lebih tinggi dan dapat membeku. Cairan jaringan yang terjadi karena hal lain daripada radang, misalnya karena gangguan sirkulasi, mengandung sedikit protein, berat jenisnya rendah dan tidak membeku, cairan ini disebut transudat. Transudat misalnya terjadi pada penderita penyakit jantung. Pada penderita payah jantung , tekanan dalam pembuluh dapat meninggi sehingga cairan keluar dari pembuluh dan masuk ke dalam jaringan.
Pemeriksaan cairan badan yang tersangka transudat atau eksudat bermaksud untuk menetukan jenisnya dan sedapat-dapatnya untuk mendapat keterangan tentang causanya.
Bila sel-sel atau jaringan tubuh mengalami cedera atau mati, selama hospes tetap hidup ada respon yang menyolok pada jaringan hidup disekitarnya. Respon terhadap cedera ini dinamakan peradangan. Yang lebih khusus peradangan adalah reaksi vascular yang hasilnya merupakan pengiriman cairan, zat-zat yang terlarut dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial pada daerah cedera atau nekrosis. Peradangan sebenarnya adalah gejala yang menguntungkan dan pertahanan, hasilnya adalah netralisasi dan pembuangan agen penyerang,penghancuran jaringan nekrosis dan pembentukan keadaan yang dibutuhkan untuk perbaikan dan pemulihan. Reaksi peradangan itu sebenarnya adalah peristiwa yang dikoordinasi dengan baik yang dinamis dan kontinyu. Untuk menimbulkan reaksi peradangan maka jaringan harus hidup dan khususnya harus memiliki mikrosirkulasi fungsional. Jadi yang dimaksud dengan radang adalah rangkaian reaksi yang terjadi pada tempat jaringan cedera. Pada proses peradangan terjadi pelepasan histamine dan zat-zat humoral lain kedalam cairan jaringan sekitarnya.
Akibat dari sekresi histamine tersebut berupa:
1.      Peningkatan aliran darah local
2.      Peningkatan permeabilitas kapiler
3.      Perembesan ateri dan fibrinogen kedalam jaringan interstitial
4.      Edema ekstraseluler local
5.      Pembekuan cairan ekstraseluler dan cairan limfe.
Peradangan dapat juga dimasukkan dalam suatu reaksi non spesifik, dari hospes terhadap infeksi. Adapun kejadiannya sebagai berikut: pada setiap luka pada jaringan akan timbul reaksi inflamasi atau reaksi vaskuler.Mula-mula terjadi dilatasi lokal dari arteriole dan kapiler sehingga plasma akan merembes keluar. Selanjutnya cairan edema akan terkumpul di daerah sekitar luka, kemudian fibrin akan membentuk semacam jala, struktur ini akan menutupi saluran limfe sehingga penyebaran mikroorganisme dapat dibatasi.Dalam proses inflamasi juga terjadi phagositosis, mula-mula phagosit membungkus mikroorganisme, kemudian dimulailah digesti dalam sel. Hal ini akan mengakibatkan perubahan pH menjadi asam. Selanjutnya akan keluar protease selluler yang akan menyebabkan lysis leukosit.Setelah itu makrofag mononuclear besar akan tiba di lokasi infeksi untuk membungkus sisa-sisa leukosit.Dan akhirnya terjadilah pencairan (resolusi) hasil proses inflamasi lokal. Cairan kaya protein dan sel darah putih yang tertimbun dalam ruang ekstravaskular sebagai akibat reaksi radang disebut eksudat.

EKSUDAT
Jenis-Jenis Eksudat :
1.      Eksudat non seluler
a.       Eksudat serosa
Pada beberapa keadaan radang, eksudat hampir terdiri dari cairan dan zat-zat yang terlarut dengan sangat sedikit leukosit. Jenis eksudat nonseluler yang paling sederhana adalah eksudat serosa,yang pada dasamya terdiri dari protein yang bocor dari pembuluh-pembuluh darah yang permiable dalam daerah radang bersama-sama dengan cairan yang menyertainya. Contoh eksudat serosa yang paling dikenal adalah cairan luka melepuh.
b.      Eksudat fibrinosa
Jenis eksudat nonseluler yang kedua adalah eksudat fibrinosa yang terbentuk jika protein yang dikeluarkan dari pembuluh dan terkumpul pada daerah peradangan yang mengandung banyak fibrinogen. Fibrinogen ini diubah menjadi fibrin, yang berupa jala jala lengket dan elastic (barangkali lebih dikenal sebagai tulang belakang bekuan darah). Eksudat fibrinosa sering dijumpai diatas permukaan serosa yang meradang seperti pleura dan pericardium dimana fibrin diendapkan dipadatkan menjadi lapisan kasar diatas membran yang terserang. Jika lapisan fibrin sudah berkumpul di permukaan serosa,sering akan timbul rasa sakit jika terjadi pergeseran atas permukaan yang satu dengan yang lain. Contoh pada penderita pleuritis akan merasa sakit sewaktu bernafas, karena terjadi pergesekan sewaktu mengambil nafas.
c.       Eksudat musinosa (Eksudat kataral)
Jenis eksudat ini hanya dapat terbentuk diatas membran mukosa, dimana terdapat sel-sel yang dapat mengsekresi musin. Jenis eksudat ini berbeda dengan eksudat lain karena eksudat ini merupakan sekresi set bukan dari bahan yang keluar dari aliran darah. Sekresi musin merupakan sifat normal membran mukosa dan eksudat musin merupakan percepatan proses dasar fisiologis.Contoh eksudat musin yang paling dikenal dan sederhana adalah pilek yang menyertai berbagai infeksi pemafasan bagian atas.
2.      Eksudat Seluler
d.      Eksudat netrofilik
Eksudat yang mungkin paling sering dijumpai adalah eksudat yang terutama terdiri dari neutrofil polimorfonuklear dalam jumlah yang begitu banyak sehingga bagian cairan dan protein kurang mendapat perhatian. Eksudat neutrofil semacam ini disebut purulen. Eksudat purulen sangat sering terbentuk akibat infeksi bakteri.lnfeksi bakteri sering menyebabkan konsentrasi neutrofil yang luar biasa tingginya di dalam jaringan dan banyak dari sel-sel ini mati dan membebaskan enzim-enzim hidrolisis yang kuat disekitarnya. Dalam keadaan ini enzim-enzim hidrolisis neutrofil secara harafiah mencernakan jaringan dibawahnya dan mencairkannya. Kombinasi agregasi netrofil dan pencairan jaringan-jaringan di bawahnya ini disebut suppuratif,atau lebih sering disebut pus/nanah.
Jadi pus terdiri dari :
Ø  neutrofil PMN yang hidup dan yang mati neutrofil PMN yang hancur
Ø  hasil pencairan jaringan dasar (merupakan hasil pencernaan)
Ø  eksudat cair dari proses radang
Ø  bakteri-bakteri penyebab
Ø  nekrosis liquefactiva.
3.      Eksudat Campuran
Sering terjadi campuran eksudat seluler dan nonseluler dan campuran ini dinamakan sesuai dengan campurannya.Jika terdapat eksudat fibrinopurulen yang terdiri dari fibrin dan neutrofil polimorfonuklear, eksudat mukopurulen, yang terdiri dari musin dan neutrofil, eksudat serofibrinosa dan sebagainya.
Eskudat seringkali sembuh dan tak berulang bila telah dikeluarkan seluruhnya.
Menurut lokalisasinya disebut :
Ø  Pleuritis eksudativa
Ø  Perikarditis eskudativa
Ø  Perotinitis eksudativa
Ø  Arthritis eksudativa
Sifat-sifat eksudat tergantung pada bahan-bahan yang dikandungnya, jadi eksudat dapat berbentuk :
-          Serous
-          Fibrinous
-          Haemorrhagis
-          Purulent
-          Berbentuk kombinasi
Ciri-ciri eksudat spesifik :
Ø  Warna (karakteristik purulen = putih ² kuning, hemoragis = merah, dsb)
Ø  Kejernihan keruh
Ø  Berat jenis => 1,018 (1,018 ² 1,030)
Ø  Ada bekuan, atau membeku dalam jangka waktu cepat
Ø  Bau tidak khas. Infeksi kuman anaerob / E.coli : bau busuk
Ø  Protein > 3 gr % (tes rivalta positif)
Ø  Glukosa << plasma
Ø  Lemak mungkin positif (infeksi tuberculosis)
Ø  Jumlah lekosit : 500 ² 40.000 / mm3
Ø  Jenis sel : > polinuklear
Ø  Bakteri sering (+++)

TRANSUDAT
Transudat mempunyai kecenderungan reseidif jika faktor penyebab tidak dihilangkan.
Menurut lokalisasinya, transudat disebut dengan istilah :
-          Hidrotoraks
-          Hidroperikardium
-          Hidroperitoneum
-          Hidroarrosis
Kelainan-kelainan yang dapat menimbukan transudat :
-          Penurunan tekanan osmotic plasma karena hipoalbuminemi
-          Sindroma nefrotik
-          Cirrhosis hepatis
-          Peningkatan retensi Natrium dan air
-          Penggunaan natrium dan air yang meningkat
-          Penurunan ekskresi Natrium dan air (contoh : gagal ginjal)
-          Meningkatnya tekanan kapilaer / vena
-          Kegagalan jantung
-          Obstruksi vena porta
-          Perikarditis constrictif
-          Obstruksi limfe
-          Hidrothoraks
-          Elephantiasis
-          Pasca mastektomi radikal
Ciri-ciri transudat spesifik :
Ø  Warna agak kekuningan
Ø  Kejernihahan : jernih
Ø  Berat jenis <1,018 (1,006 ² 1,015)
Ø  Tak ada bekuan, atau membeku lambat / dalam jangka waktu lama
Ø  Bau tidak khas
Ø  Protein < 2,5 gr % (tes rivalta negative)
Ø  Glukosa = plasma
Ø  Lemak : negative (kecuali bila chylous +)
Ø  Jumlah lekosit : <500 mm3
Ø  Jenis sel : > mononuclear
Ø  Bakteri negative atau jarang (+)

Perbedaan cairan transudat dan eksudat
TRANSUDAT
EKSUDAT
Bukan proses radang
Merupakan proses radang
Bakteri (-)
Bakteri (+)
Warna kuning muda
Warna sesuai penyebabnya
Jernih dan encer
Keruh dan kental
Tidak menyusun bekuan
Menyusun bekuan
Fibrinogen (-)
Fibrinogen (+)
Jumlah leukosit <500 sel/µl
Jumlah leukosit >500 sel/µl
Kadar protein < 2,5g/dl
Kadar protein > 2,5g/dl
Kadar glukosa sama dengan plasma darah
Kadar glukosa lebih kecil dari plasma darah
Zat lemak (-)
Zat lemak (+)
Bj 1006 – 1015
Bj 1018 - 1030
              
Macam macam pemeriksaan transudat dan eksudat :
1.      Makroskopis
a.       Volume
Prinsip      : Volume transudat dan eksudat diukur dengan gelas ukur dan   hasilnya dibaca setinggi miniskus bawah.
Cara kerja :
1)      Masukkan caian dalam becker glass
2)      Tuang cairan dri becker glass ke dalam gelas ukur
3)      Lihat volume caitan yang ada pada gelas ukur

b.      Warna
Prinsip             : Warna cairan diamati secara visual dengan cahaya terang
Cara kerja        :
1)      Masukkan cairan kedalam beckerglass
2)      Amati warna cairan secara visual
Transudat  : kuning muda
Eksudat     : bermacam macam tergantung dari penyebabnya
                          Hijau è bilirubin
                          Merah è darah
                          Putih kekuningan è pus
                          Putih susu è chylus
                          Biru kehijauan è bakteri pyogenes

c.       Kekeruhan
Prinsip             : Kekeruhan cairan diamati secara visual
Cara kerja        :
1)      Masukkan cairan kedakm becker glass
2)      Amati kekeruhannya
Transudat : jernih
Eksudat     : agak keruh

d.      Bau
Prinsip             : Cairan dibau dengan panca indra hidung
Cara kerja        :
1)      Masukkan cairan kedalam becker glass
2)      Dekatkan kearah hidung dan kibaskan tangan ke arah hidung

e.       Bekuan
Prinsip             : Adanya bekuan diuji dengan cara cairan dipipet dengan  pipet tetes
Cara kerja        :          
1)      Masukkan sampel kedalam becker glass
2)      Pipet caian dengan pipet tetes
3)      Keluarkan cairan dengan pipet tetes
4)      Jika cairan bisa dikeluarkan dari pipet tetes berarti bekuan (-)
5)      Jika cairan sulit dikeluarkan dari pipet tetes berarti bekuan (+)
6)      Adanya bekuan dinyatakan dengan : renggang, berkeping, berbutir,sangat halus.
Transudat : (-) tidak terjadi bekuan
Eksudat : (+) terjadi bekuan

f.       Berat jenis
Prinsip             : Berat jenis ciran dilihat pada tangkai urinometer setinggi miniskus bawah
Cara kerja        :
1)      Masukkan cairan ke dalam becker glass
2)      Tuang cairan ke dalam gelas ukur  40-50ml
3)      Masukkan urinometer dalam gelas ukur
4)      Bacalah berat jenis cairan pada skala urinometer setinggi miniskus bawah
Transudat              : 1006- 1015
Eksudat     : 1018 – 1030

2.      Mikroskopis
a.      Hitung Jumlah Sel Lekosit
Metode
Kamar hitung Improved Neubauer atau Fuchs Rosenthal.

Tujuan
Untuk menghitung jumlah sel lekosit dalam cairan dan mengetahui bahwa sampel cairan tubuh tersebut transudat atau eksudat. 

Prinsip
Jumlah sel lekosit dihitung berdasarkan pengenceran dalam larutan  pengencer dan jumlah sel dalam cairan dalam kamar hitung.

Alat
-          Mikroskop
-          Kamar Hitung Improved Neubauer atau fucsh rosental
-          Pipet Lekosit
-          Kaca Penutup

Reagensia
Ø  Larutan pengencer NaCl 0,9 %
Ø  Antikoagulan Natrium Citrat atau Heparin steril.

Prosedur Kerja
1)      Sampel didapat dengan mengadakan pungsi dan campur dengan anticoagulant
2)      Kocok dahulu sampel yang akan diperiksa supaya homogen
3)      Pipet NaCl 0,9 % dengan pipet lekosit sampai tanda 1 tepat
4)      Pipet sampel sampai tanda 11 tepat
5)      Kocok agar sampel dan larutan tercampur sempurna
6)      Bila segera dihitung buang beberapa tetes larutan dan teteskan pada kamar hitung. Biarkan mengendap 2-3 menit. Dan hitung didalam kamar hitung di bawah mikroskop. Dengan pembesaran sedang (10 X 45), sebanyak 4 kotak besar.

Perhitungan
·         Dengan Kamar hitung Improved Neubauer
Jumlah sel lekosit = PDP x TKP x sel leukosit (KBH)
Ket            : PDP = Pengenceran dalam pipet
  TKP = Tinggi Kaca Penutup
  KBH = Kotak Besar yang dihitung
·         Dengan kamar hitung Fuchs Rosenthal
Jumlah sel lekosit dalam 9 kotak = a
Luas permukaan : 3 x 3 mm2 = 9 mm2
Dalam : 0,2 mm
Isi : 9 x 0,1 mm3 = 0,9 mm
Dalam 1 mm3 terdapat : 10/9 x a sel
Pengenceran : 10/9 kali
Jadi jumlah sel/1 mm3       = 10/9 x 10/9 x a sel
= 100/81 x a sel
= 5/4 x a sel
Catatan :
Kamar hitung dari Fuchs Rosenthal lebih teliti karena volumenya lebih besar. Kalau cairan berupa purulen tidak ada gunanya menghitung jumlah lekosit tindakan ini baiknya hanya dilakukan dengan cairan yang jernih atau yang agak keruh saja. Untuk cairan yang agak keruh, pilih pengenceran yang sesuai. Bahan pengencer sebaiknya larutan NaCl 0,9 % jangan menggunakan larutan turk, karena dapat menyebabkan terbentuknya bekuan dalam cairan. Cairan yang berupa transudat biasanya mengandung kurang dari 500 sel/ul. Semakin tinggi angka itu semakin besar kemungkinan cairan tersebut bersifat eksudat.

b.      Hitung Jenis Sel Lekosit.
Metode
Giemsa atau Wright Stain

Prinsip
Endapan cairan dibuat hapusan, kemudian diwarnai dengan pewarnaan      tertentu (Giemsa/Wright) maka sel lekosit akan mengambil warna zat.Lalu dihitung dibawah mikroskop dengan pembesaran 1000X dalam 100 % sel lekosit.

Tujuan
Untuk mengetahui jenis sel lekosit dalam cairan/sampel, sehingga dapat menentukan jenis cairan tersebut (transudat/eksudat).


Alat
-          Objek glass
-          Pipet tete
-          Pipet ukur
-          Gelas ukur
-          Rak pewarnaan
-          Mikroskop

Reagensia
Ø  Giemsa
Komposisi :     1 gr giemsa
100 ml Metanol absolute

Ø  Wright
Komposisi :     0,1 gr Wright (digerus)
60 ml Methanol absolute
Buffer phospat pH 7,2
KH2PO4 6,63 gr
Na2HPO4 3,2 gr
Aquades add 1000 ml
Persiapan Reagen
Giemsa : 17 tetes stok larutan giemsa ditambah 5 ml aquades

Prosedur Kerja
1)      Sediaan apus dibuat dengan cara yang berlain-lainan tergantung sifat cairan  itu:
-          Jika cairan jernih, sehingga diperkirakan tidak mengandung banyak   sel, pusinglah 10 Sampai 15 ml sampel 1500 rpm selama 10 menit
-          Cairan atas dibuang dan sediment dicampur dengan beberapa tetes serum penderita sendiri. lalu dibuat hapusan.
-          Kalau cairan keruh sekali atau purulent, dibuat sediaan apus langsung memakai bahan itu. Jika terdapat bekuan dalam cairan, bekuan itulah yang dipakai untuk membuat sediaan tipis.
2)      Difiksasi dengan metanol selama 2 menit, buang, cuci dengan aquades
3)      Digenangi dengan zat warna Giemsa atau Wright selama 15 menit, buang sisa   zat warna dan cuci dengan aquades, keringkan diudara.
4)      Dihitung jenis sel atas 100-300 sel, di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000 X.

Hasil
Transudat        : Hanya sel mononuklear (limposit)
Eksudat           : Ditemukan sel mononukleaar dan PMN/segmen

Catatan :
Hitung jenis ini hanya untuk membedakan limposit dan segmen. Hasil hitung jenis dapat memberi keterangan tentang jenis radang, yang menyertai proses radang akut hampir semua sel berupa segment. Semakin tenang proses itu semakin bertambah limpositnya, sedangkan radang menahun menghasilkan hanya limposit saja dalam hitung jenis. Perbandingan banyak sel dalam golongan limposit dan sel polimorponuklear atau segment memberi petunjuk kearah jenis radang yang menyebabkan atau menyertai eksudat.

3.      Pemeriksaan Bakteriologi
Pemeriksaan Bakteriologis ( gram stain )
Metode Gram
Prinsip
Bakteri gram (+) akan mengikat warna ungu dari carbol gentian violet dan akan diperkuat oleh lugol sehingga pada saat pelunturan dengan alkohol 96 % warna ungu tidak akan luntur, sedangkan gram (-) akan Luntur oleh alkohol dan mengambil warna merah dari fuksin

Tujuan
Untuk mengetahui adanya kuman–kuman dalam sampel sehingga dapat menentukan jenis cairan tersebut apakah transudat atau eksudat

Alat
- Objek Glass
- Pipet tetes
- Bak dan rak pewarnaan
- Mikroskop

Reagensia
Ø  Carbol gentian violet 1 %
Ø  Lugol 1 %
Ø  Alkohol 96 %
Ø  Air Fuchsin 1 %

Prosedur Kerja
1)      Setetes sampel yang telah disentrifuge dibuat hapusan diatas objekglass, dan dikeringkan.
2)      Diwarnai dengan karbol gentian violet selama 3 menit, dicuci
3)      Ditambah lugol selama 1 menit, dicuci
4)      Ditambah alkohol 96 %selama 30 detik, dicuci
5)      Ditambah air fuchsin selama 2 menit, dicuci dan dikeringkan
6)      Diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000 x

Catatan :
Transudat  : Tidak ditemukan bakteri
Eksudat     : Ditemukan bakteri
Selain dengan pewarnaan gram, juga bisa dilakukan dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen untuk menemukan adanya bakteri Clostridium spp. Kalau akan mencari fungi (jamur) campur setetes sampel dengan KOH/NaOH 10% diatas objek glass, tutup dengan kaca penutup, biarkan selama 20 menit, kemudian periksa dibawah mikroskop.

Kesimpulan
Dengan melakukan pemeriksaan mikroskopis antara lain hitung jumlah dan hitung jenis sel lekosit serta adanya bakteri dalam cairan/sampel yang diperiksa, dapat menentukan jenis cairan tersebut apakah transudat atau eksudat, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menegakkan diagnosa.

Hal – hal yang harus diperhatikan : 
v  Pengambilan dan pengiriman sampel
-          Pengambilan sampel dilakukan secara pungsi yang berada disetiap rongga tubuh, dibentuk oleh kulit bagian bawah (debris), pengambilan harus dalam keadaan steril baik itu alat ataupun wadah sampel
-          Pengiriman sampel dalam wadah tertutup rapat, steril, dan diberi etiket yaitu nama, lamanya sakit, waktu pengambilan, jenis peneriksaan yang diminta, Bila yang dikirim berupa preparat etiketnya ditempel dibelakang preparatnya.
v  Kualitas Reagensia
-          Reagensia tidak kadaluarsa, disimpan dalam botol coklat, bertutup rapat dan terlindung dari cahaya matahari langsung.
-          Sebelum digunakan sebaiknya disaring terlebih dahulu.
v  Teknik Pemeriksaan
-          Pemeriksaan sesuai dengan prosedur dan perlu ketelitian
-          Perlu juga diperhatikan alat – alat yang digunakan dalam keadaan bersih dan kering, kondisi alat seperti pipet tidak pecah pada ujungnya begitu juga dengan kamar hitung.
-          Lamanya waktu pewarnaan juga mempengaruhi terhadap sel yang diwarnai, untuk itu pada saat pewarnaan sesuai dengan waktunya.

4.      Pemeriksaan Kimia
a.      Metode rivalta
Tujuan
Untuk menentukan jenis cairan yang diperiksa.

Prinsip
Seromucin yang terdapt dalam eksudat dan tidak terdapat dalam Transudat akan bereaksi dengan asam asetat encer membentuk kekeruhan yang nyata.

Cara kerja
1)      Masukan 10 ml aquadest dalam becker glass
2)      Tambahkan 1 tetes asam asetat glacial kemudian aduk dengan batang pengaduk
3)      Tanbahkan 1tetes cairan yang diperiksa dengan jarak 1cm dari atas
permukaan cairan
Amati tetesan itu bercampur dan bereaksi dengan latar belakang hitam. Ada tiga kemungkinan yaitu :
§  Tetesan itu bercampur dan bereaksi tanpa menimbulakn kekeruhan
§  Tetesan itu bereaksi dan menimbulkan kekeruhn ringan atau seperti kabut tipis hasil positif lemah ( transudat )
§  Tetesan itu bercampur dan bereaksi dengan menimbulkan kekeruhan atau membentuk kabut tebal  positif kuat ( eksudat )

Harga normal
Transudat        : (+) lemah
Eksudat           : (+) kuat

BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Adanya transudat dan eksudat disebabkan karena cairan dalam rongga serosa meningkat. Jika meningkat karena gangguan keseimbangan cairan berarti transudat, namun jika karena proses radang berarti eksudat.
Pada keadaan normal tidak ditemukan transudat dan eksudat, sehingga adanya transudat dan eksudat mengindikasikan adanya kelainan patologis, misal : gagal jantung, sirosis hepatis, glomerulo nefritik, dan lain-lain. Untuk membantu diagnosa dan membedakan apakah itu transudat atau eksudat perlu dilakukan pemeriksaan makroskopis, mikroskopis, bakteriologi, dan kimia.

B.     SARAN
Ø  Sampel yang digunakan harus segera diperiksa
Ø  Pemeriksaan mikroskopis (hitung  jenis leukosit) harus menggunakan larutan cat yang baru agar leukosit terlihat jelas, PERHATIKAN juga pembuatan preparat supaya hasil dapat optimal dan kesalahan dapat dikurangi
Ø  Pedal pemeriksaan metode rivalta, pengamatan tetesan harus jeli dan teliti agar tidak terjadi kesalahan
Ø  Sebaiknya saat meneteskan sampel menggunakan dropple pipet supaya banyak tetesannya karena diameter dropple pipet sama satu dengan yang lainnya

DAFTAR PUSTAKA

Protein

►  PROTEIN  ◄

Pencernaan protein dimulai di :
  1. Di lambung, Hydrochloric acid (HCL) menguraikan rangkaian protein (denaturasi protein) dan mengaktifkan enzim pepsinogen menjadi pepsin. Pepsin lalu menguraikan protein menjadi polipeptida kecil dan beberapa asam amino bebas.

  1. Di usus kecil, polipeptida diuraikan menjadi asam amino dengan menggunakan enzim pankreas dan intestinal protease:
a.       Trypsin à menguraikan ikatan peptida menjadi asam amino lysine dan arginine.
b.      Chymotrypsin à menguraikan ikatan peptoda menjadi asam amino phenylalanine, tyrosine, tryptophan, methionine, asparagine, dan histidine.
c.       Carboxypeptidase à menguraikan asam amino  dari ujung karboksil polipeptida.
d.      Elastase dan collagenase à menguraikan polipeptida menjadi polipeptida yang lebih kecil dan tripeptida. Dan enzim yang ada di permukaan sel dinding usus halus yaitu :
i)        Intestinal tripeptidase à menguraikan tripeptida menjadi dipeptida dan asam amino.
ii)      Intestinal dipeptidase à menguraikan tripeptida menjadi asam amino.
iii)    Intestinal aminopeptidase à menguraikan asam amino dari ujung amino polipeptida kecil.

  1. Setelah itu, asam amino diserap oleh dinding usus, lalu diangkut ke sel, dimana asam amino tersebut dilepaskan ke dalam darah.

  1. Kelebihan protein tidak disimpan dalam tubuh, melainkan akan dirombak dalam hati menjadi senyawa yang mengandung unsur N, seperti NH3 (amonia) dan NH4OH (amonium hidroksida) serta senyawa yang tidak mengandung unsur N. Senyawa yang mengandung unsur N akan disintesis menjadi urea  di hati, karena hati mempunyai enzim arginase. Urea diangkut bersama zat-zat sisa lainnya ke ginjal untuk dikeluarkan melalui urin. Senyawa yang tidak mengandung unsur N akan disintesis kembali.

METABOLISME PROTEIN:
Protein turn-over dan amino acid pool :
Protein dalam tubuh bersifat dinamis, selalu ada sintesis dan degradasi. Di dalam setiap sel, protein secara kontinu dibuat dan diuraikan, proses ini disebut protein turn-over. Saat protein diuraikan, asam amino dibebaskan. Asam amino ini bercampur dengan asam amino dari dietary protein membentuk amino acid pool di dalam sel dan peradaran darah.

Nitrogen Balance:
  1. Negatif  jika N out > N in
  2. Positif  jika N out < N in
  3. Zero jika N out = N in 

ANABOLISME
  1. SINTESIS PROTEIN TRANSKRIPSI
Sintesis mRNA dari salah satu rantai DNA, yaitu rantai cetakan atau sense. RNA dihasilkan dari aktivitas enzim RNA polimerase. Enzim ini membuka pilinan kedua rantai DNA hingga terpisah dan merangkainkan nukleotida RNA dari arah 5’ ke 3’. Inisiasi Daerah DNA dimana RNA polimerase melekat dan mengawali transkripsi disebut promoter. Elongasi Pilinan heliks ganda DNA terbuka secara berurutan. Setelah sintesis RNA berlangsung, DNA heliks ganda terbentuk kembali dan molekul RNA baru akan lepas dari cetakan DNA-nya. Terminasi RNA polimerase mencapai titik akhir.  TRANSLASI Proses mRNA mengarahkan serangkaian asam amino dan sintesis protein. Inisiasi Terjadi dengan adanya mRNA, sebuah RNAt yang memuat asam amino pertama dari polipeptida dan 2 subunit RNAr. Pertama, subunit ribosom kecil mengikatkan diri pada RNAd dan RNAt inisiator. Pada mRNA terdapat kodon inisiasi AUG (start codon), yang memberi sinyal dimulainya proses translasi. RNAt inisiator yang membawa asam amino metionin, melekat pada kodon inisiasi AUG. Elongasi Asam amino-asam amino berikutnya ditambahkan satu persatu pada asam amino pertama (metionin). Molekul RNAr dari subunit ribosom besar berfungsi sebagai enzim, yaitu mengkatalis pembentukan ikatan peptida yang menggabungkan polipeptida yang memanjang ke asam amino yang baru tiba. Terminasi Elongasi berlanjut terus hingga ribosom mencapai kodon stop (UAA, UAG, atau UGA). Kodon stop hanya bertindak sebagai sinyal untuk menghentikan translasi. Akhirnya, rantai protein terbentuk.

  1. SINTESIS ASAM AMINO NON ESSENSIAL
a.       Transamination of α-keto acids Pyruvate  Alanine Oxaloacatate Aspartate α-keto glutarat    Glutamate
b.      Amidation Glutamate   Glutamine by glutamine synthetase Aspartate   Asparagine by asparagine synthetase
c.       Synthesis from other amino acids 3-phospoglycerate 3-phospopyruvate  serine Glutamate   prolin  by cyclization and reduction reactions Serine glycine by removal of hydroxymethil group and by hydroxymethyl transferase Metionin         cysteine Fenilalanin tyrosine by phenylalanine hydroxylase
 
KATABOLISME :
  1. KATABOLISME NITROGEN ASAM AMINO à UREA (removal of α-amino group)
a.       Transaminasi
Semua asam amino, kecuali lysine, threonine, proline, dan hydroxyproline, mengalami transaminasi. Dalam transaminasi, grup α-amino dihilangkan. Enzim alanine aminotransferase: Enzim glutamate aminotransferase: Pyruvate  α-amino acid α-ketoglutarat α-amino acid   L-alanine  α-keto acid   L-glutamate  α-keto acid
b.      Deaminasi oksidatif
Menggunakan enzim L-glutamate dehydrogenase:   NAD+  NADH,  NH3, Glutamate, α-ketoglutarate, dehydrogenase. Glutamate       NH3  NADP+  NADPH
c.       Transpor ammonia
i)        Di kebanyakan jaringan Glutamine synthetase mengubah kombinasi amonia dan glutamate menjadi glutamine (bentuk transpor amonia yang tidak beracun). Glutamine lalu ditranspor oleh darah ke hati, dimana glutamine diuraikan oleh glutaminase menjadi glutamate dan amonia bebas.
ii)      Di otot Hasil transaminasi piruvat (hasil akhir glikolisis), yaitu alanine. Alanine ditranspor oleh darah ke hati, dimana alanine diubah lagi menjadi piruvat dengan transaminasi. Di hati, proses glukoneogenesis dapat menggunakan piruvat untuk mensintesis glukosa, yang mana dapat memasuki darah dan digunakan oleh otot – proses tersebut bernama glucose-alanine cycle sebagian besar di hati, di otot,  jaringan Glutamat, Glutamat Urea, Asam amino NH4+ATP Glutamine, Glutaminase sintetase H2O.  H2O Glutamate α-Keto- α-Keto-Glutamate  ADP, Pi glutarat Glutamine, Pyruvat, Alanine, Glukosa
d.      Siklus urea
i)        Di mitokondria CO2 +NH + 2 ATP      Carbomyl phospate ; enzim:Carbomyl phospate synthetase I L-Ornithine   L-Citruline ; enzim:Ornithine transcarbamoylase Carbomyl phospate Pi 
ii)      Di sitosol *L-Citruline + L-Aspartate     Argininosuccinate ATP AMP + Ppi *Argininosuccinate Fumarate + L-Arginine ; enzim: Argininosuccinatelyase >>Fumarat dihidrasi menjadi malat yang dapat ditranspor ke mitokondria dan memasuki kembali Kreb’s Cycle. Selain itu, sitosolik malate dapat dioksidasi menjadi oksaloasetat, yang mana dapat diubah menjadi aspartat atau glukosa. *L-Arganine  L-Ornithine + Urea ; enzim: arginase  OVERALL:  Aspartate + NH3 + CO2 + 3 ATP     Urea + Fumarate + 2 ADP + AMP + 2 Pi + PPi+ 3 H20  *Urea berdifusi dari hati dan ditrasnpor dalam darah k eginjal, dimana urea disaring dan dikeluarkan dalam urine. Sebagian dari urea berdifusi ke ke usus halus dan diuraikan menjadi CO2 dan NH3 oleh bakteriurease. Amonia ini sebagian hilang di feces dan sebagian lagi diserap lagi oleh darah.

  1. KATABOLISME RANTAI KARBON ASAM AMINO
a.       Asam amino glukogenik: asam amino yang katabolismenya menghasilkan piruvat atau salah satu intermediat dari siklus Krebs, yaitu:
v  Asparagin aspartat oxaloacetate
v  Glutamine
● Phenilalanin fumarat Prolin αketoglutarate Tyrosin Arginine Histidine
● Metionin
v  Alanine Valin succynil-coA Serine Isoleusin Glycine pyruvat       Threonn Sistein Threonine
b.      Asam amino ketogenik: asam amino yang katabolismenya menghasilkan acetoacetate atau salah satu bahan bakunya (acetyl coA atau acetoacetyl coA). Acetoacetate adalah salah satu dari ketone body, yaitu:
v  Leusin hanya ketogenic Lisin
v  Isoleusin : ketogenic dan glukogenic Triptofan 

HORMON yang BERPENGARUH PADA METABOLISME PROTEIN
  1. Hormon Tiroid Efek utama T3/T4
adalah untuk menggalakkan sintesis protein secara umum dan menghasilka keseimbangan nitrogen yang positif. Konsentrasi T3 yang sangat tinggi akan menghambat sintesis protein dan menyebabakan keseimbangan nitrogen yang negatif. Tiroksin meningkatkan kecepatan metabolisme seluruh sel, secara tidak langsung juga mempengaruhi metabolisme protein. Jika karbohidrat dan lemak tidak cukup tersedia untuk energi, tiroksin menyebabkan pemecahan protein yang cepat dan memakainya untuk energi.

  1. Insulin
Insulin penting untuk sintesis protein. Kekurangan insulin secara total, mengurangi sintesis protein sampao hampir nol. Meski tidak diketahui kenapa, tapi insulin memang mempercepat transpor asam amino ke sel. Insulin juga meningkatkan persediaan glukosa ke sel, sehingga kebutuhan asam amino untuk energi berkurang.

  1. Glukokortikoid
Glukokortikoid yang disekresikan adrenal kortex mengurangi kuantitas protein di sebagian besar jaringan, tapi meningkatkan konsentrasi asam amino di dalam plasma, juga meningkatkan protein hati dan protein plasma. Diduga bahwa glukokortikoid bekerja dengan meningkatkan kecepatan pemecahan protein ekstrahepatik, dengan demikian, meningkatkan jumlah asam amino yang tersedia dalam cairan tubuh. Hal ini sebaliknya memungkinkan hati meningkatkan jumlah sintesis protein ekstraseluler dan protein plasma.

  1. Testosteron
Testosteron menyebabkan peningkatan deposit protein dalam jaringan di seluruh tubuh, terutama peningkatan protein kontraktil otot. Berbeda dengna hormon pertumbuhan yang menyebabakna jaringan terus menerus tumbuh hamoir tak terbatas, testosteron menyebabkan otot dan jaringan protein lain membesar hanya untuk beberapa bulan. 

PEMBENTUKAN KETON BODIES:
Setelah deaminasi, dikeluarkan sebagai urea. Rangkaian karbon yang tersisa setelah transaminasi :
(1)   dioksidas menjadi CO2 lewat citric acid cycle
(2)   membentuk glukosa (glukoneogenesis)
(3)   (3) membentuk keton bodies.Ketone body biasa digunakan setelah puasa untuk waktu yang lama (lebih dari 10 hari) sebagai sumber energi alternatif. Ketone bodies dalam jumlah yang kecil normal dalam darah, tapi bila konsentrasinya meningkat, pH dalam darah menurun. Ini disebut ketosis, sebuah tanda bahwa keadaan kimia tubuh mulai kacau. Saat dimana lebih banyak lagi keton bodies yang terakumulasi sehingga menyebabkan kadar pH darah turun sampai taraf asam yang membahayakan, keadaan ini disebut ketoacidosis. 

PEMBENTUKAN ALBUMIN:
Albumin disintesis dalam hati dengan pengaruh hormon insulin / T4 atau kortisol. Kadar albumin yang normal dalam darah untuk orang dewasa (> 3 tahun) adalah 3,5-5 g/dL. Untuk anak-anak yang berumur kurang dari 3 tahun, kadar yang normal adalah 2,5-5,5 g/dL. 

BLOOD UREA NITROGEN (BUN) TEST
BUN adalah tes untuk mengatur seberapa baik ginjal bekerja. Tes ini mengukur kandungan nitrogen yang ada dalam darah, yaitu urea. Penyakit pada ginjal kadang membuat ginjal susah untuk menyaring urea sebanyak biasanya. Ini menyebabkan tingginya level urea dalam darah. Dalam tes ini, sampel darah akan diambil. Batas yang
normal untuk BUN adalah 7-20 mg/dL. 

Apa yang Diukur dalam Tes Fungsi Hati?
Produk berikut biasanya diukur sebagai bagian dari tes fungsi hati:
  • ALT (alanin aminotransferase), juga dikenal sebagai SGPT (serum glutamik piruvik transaminase)
  • AST (aspartat aminotransferase), juga dikenal sebagai SGOT (serum glutamik oksaloasetik transaminase)
  • Fosfatase alkali
  • GGT (gamma-glutamil transpeptidase, atau gamma GT)
  • Bilirubin
  • Albumin
Lembaran Informasi (LI) 120 menunjukkan nilai normal atau nilai rujukan untuk semua tes tersebut. Harus ditekankan bahwa nilai ini berbeda tergantung pada alat yang dipakai di laboratorium yang melakukan tes serta cara penggunaannya. Laporan laboratorium yang kita terima setelah melakukan tes menunjukkan nilai normal yang berlaku. Sebagai contoh, batas atas nilai normal (BANN) untuk AST dapat berkisar dari 35 hingga 50, dan berbeda untuk laki-laki dan perempuan. Jadi bila kita ingin dapat komentar mengenai hasil tes, sebaiknya kita menyebut baik hasil tes maupun nilai normal. Selain itu, hasil tes juga dapat berubah tergantung pada jam berapa darah diambil. Sebaiknya contoh darah kita diambil pada jam yang sama setiap kali kita dites fungsi hati, dan juga selalu pada laboratorium yang sama.
Enzim Hati
ALT adalah lebih spesifik untuk kerusakan hati. ALT adalah enzim yang dibuat dalam sel hati (hepatosit), jadi lebih spesifik untuk penyakit hati dibandingkan dengan enzim lain. Biasanya peningkatan ALT terjadi bila ada kerusakan pada selaput sel hati. Setiap jenis peradangan hati dapat menyebabkan peningkatan pada ALT. Peradangan pada hati dapat disebabkan oleh hepatitis virus, beberapa obat, penggunaan alkohol, dan penyakit pada saluran cairan empedu.
AST adalah enzim mitokondria yang juga ditemukan dalam jantung, ginjal dan otak. Jadi tes ini kurang spesifik untuk penyakit hati. Dalam beberapa kasus peradangan hati, peningkatan ALT dan AST akan serupa.
Fosfatasealkali meningkat pada berbagai jenis penyakit hati, tetapi peningkatan ini juga dapat terjadi berhubungan dengan penyakit tidak terkait dengan hati. Fosfatase alkali sebetulnya adalah suatu kumpulan enzim yang serupa, yang dibuat dalam saluran cairan empedu dan selaput dalam hati, tetapi juga ditemukan dalam banyak jaringan lain. Peningkatan fosfatase alkali dapat terjadi bila saluran cairan empedu dihambat karena alasan apa pun. Di antara yang lain, peningkatan pada fosfatase alkali dapat terjadi terkait dengan sirosis dan kanker hati.
GGT sering meningkat pada orang yang memakai alkohol atau zat lain yang beracun pada hati secara berlebihan. Enzim ini dibuat dalam banyak jaringan selain hati. Serupa dengan fosfatase alkali, GGT dapat meningkat dalam darah pasien dengan penyakit saluran cairan empedu. Namun tes GGT sangat peka, dan tingkat GGT dapat tinggi berhubungan dengan hampir semua penyakit hati, bahkan juga pada orang yang sehat. GGT juga dibuat sebagai reaksi pada beberapa obat dan zat, termasuk alkohol, jadi peningkatan GGT kadang kala (tetapi tidak selalu) dapat menunjukkan penggunaan alkohol. Penggunaan pemanis sintetis sebagai pengganti gula, seumpamanya dalam diet soda, dapat meningkatkan GGT.
Tes Air Seni
Ada serangkaian tes pada air seni untuk menilai fungsi ginjal. Sebuah tes sederhana, yang disebut urinanalisis, sering dilakukan pada awal. Contoh air seni diperiksa secara fisik untuk ciri termasuk warna, bau, penampilan, dan kepadatan; diperiksa secara kimia untuk unsur termasuk protein, glukosa, dan pH; dan di bawah mikroskop untuk keberadaan unsur sel (sel darah merah dan putih, dll.), bakteri, kristal, dsb. Kalau hasil tes ini menunjukkan kemungkinan ada penyakit atau penurunan pada fungsi ginjal, tes yang berikut mungkin dapat dilakukan:
  • Keluaran kreatinin (creatinine clearance). Tes ini menilai kemampuan ginjal untuk menghilangkan senyawa yang disebut kreatinin dari darah. Kreatinin adalah bahan ampas dari metabolisme tenaga otot, yang seharusnya disaring oleh ginjal dan dimasukkan pada air seni. Tes ini mengukur jumlah kreatinin yang dikeluarkan ke air seni selama beberapa jam. Untuk menghitung keluaran, tingkat kreatinin dalam darah juga harus diukur.
  • Keluaran urea. Urea adalah bahan ampas dari metabolisme protein, dan dikeluarkan dalam air seni. Seperti keluaran kreatinin, tes ini mengukur jumlah urea yang dikeluarkan ke air seni selama beberapa jam, dan juga membutuhkan pengukuran tingkat urea dalam darah.
  • Osmologi air seni. Tes ini mengukur jumlah partikel (bibit) yang dilarutkan dalam air seni, untuk menilai kemampuan ginjal untuk mengatur kepekatan air seni sebagaimana konsumsi air meningkat atau menurun.
  • Keberadaan protein. Ginjal yang sehat menyaring semua protein dari darah dan menyerapnya kembali, sehingga tingkat protein dalam air seni tetap rendah. Tetap ditemukan protein dalam air seni adalah tanda penyakit ginjal.
Tes Darah
Ada beberapa tes darah yang dapat membantu menilai fungsi ginjal:
  • Nitrogen urea darah (blood urea nitrogen/BUN). Urea adalah produk samping dari metabolisme protein. Bahan ampas ini dibentuk oleh hati, kemudian disaring oleh ginjal dan dikeluarkan dalam air seni oleh ginjal. Tingkat BUN dalam darah dapat menandai masalah ginjal, tetapi karena juga dipengaruhi oleh fungsi hati (lihat Lembaran Informasi (LI) 135), tes harus dilakukan bersamaan dengan pengukuran kreatinin, yang lebih khusus menandai masalah ginjal.
  • Kreatinin. Tes ini mengukur tingkat kreatinin (lihat di atas) dalam darah. Karena tingkat kreatinin hanya sedikit dipengaruhi oleh fungsi hati, tingkat kreatinin yang tinggi dalam darah lebih khusus menandai penurunan pada fungsi ginjal.
  • Tes lain. Pengukuran tingkat zat lain, yang seharusnya diatur oleh ginjal, dalam darah dapat membantu menilai fungsi hati. Zat ini termasuk zat natrium, kalium, klorida, bikarbonat, kalsium, magnesium, fosforus, protein, asam urik dan glukosa.
 

Regina Rere Mulyagan Copyright © 2010 | Designed by: Compartidisimo